Halo semua, ini aku Fara. Sesuai judul blog ini aku akan menceritakan sedikit tentang bagaimana aku bisa kehilangan dua orang sahabat. Enjoy!
2020-
Aku tahu hari dimana kehilangan seseorang yang berharga itu akan tiba, namun aku tidak menyangka akan secepat ini. Tahun 2014-2015 adalah tahun berharga yang pernah aku alami namun juga menyakitkan sekaligus, tapi hadirnya mereka setidaknya menghilangkan segala kesedihan. Awal mula semua nampak bahagia, hari-hari yang dilalui kita berempat membuatku merasa beruntung bisa memiliki sahabat seperti kalian. Hingga hari perpisahan tiba, semua tidak lagi sama. Kita berada disekolah yang berbeda setelah itu. KIta harus kehilangan satu seorang sahabat, tersisa tiga dari kita.
Semuanya berjalan dengan lancar, bahagia sekali walau tersisa kita bertiga. Aku sudah berharap banyak, mungkin kita bisa menjalankan persahabatan ini hingga kita tua nanti. Tapi kemungkinan yang kuharapkan tidak terjadi. Aku harus kehilangan sahabat lagi, ini lebih menyakitkan dibanding kehilangan yang kemarin. Tasya, her name. Aku harap kamu membaca apa yang aku tulis disini. Kesalahan yang telah aku perbuat, membuatku harus kehilangan sahabat yang mengertiku, sahabat yang selalu menemaniku disaat aku berada di titik rendahku.
Ini semua bermula candaku tak lagi menjadi tawa baginya. Kesalahanku yang terlalu mempermainkan perkataanku, membuatku tersulut emosi karena kamu tak bisa lagi menerima hal itu. Aku tidak tahu akan menjadi masalah besar seperti ini, harusnya aku meminta maaf dengan ikhlas dan tidak akan mengulangi candaku namun ternyata aku terlalu pengecut. Oh, mungkin aku memang sudah keterlaluan. Mungkin aku tidak perlu bertindak lebih dan cukup sampai disini.
Aku tahu, semuanya tak lagi sama.
Aku tahu, bagaimanapun setelah ini kamu akan tetap bersama kekasihmu.
Aku tahu Tasya.
Ketahuilah aku dan Dina peduli terhadapmu, namun semua kunci ada pada dirimu sendiri. Apapun itu, kami tetap mendukungmu. Namun semuanya tidak lagi sama ya? Sekarang tersisa aku dan Dina saja disini. Jujur aku tidak tahu seberapa hancurnya aku jika Dina pun memilih pergi. Cukup kamu dan Devita, jangan Dina. Dan semuanya akan menjadi cerita, cerita yang menyedihkan. Aku harap kalian tetap terus bahagia dengan kehidupan kalian yang sekarang, aku turut senang jika kalian berdua senang:)
2022-
Hampir 2 tahun semua terlewati, jujur aku merindukan dimana kita bisa tertawa bersama. Namun semuanya sudah tidak lagi sama, aku sudah mencoba biasa tapi tidak dengan perubahanmu. Mungkin memang kisah kita harus berakhir ya? Selama itu banyak hal menyenangkan dan menyedihkan terjadi dalam hidupku, bersyukur aku masih bisa bertahan hingga saat ini. Aku sudah tidak ingin berekspektasi lebih terhadap pertemanan, tapi aku tidak bisa melakukannya jika tidak ada pertemanan.
Aku pun mulai terbiasa dengan tanpanya kamu Tasya, bahkan Dina yang tak ada masalah sedikitpun denganmu memilih terus bersamaku. Dia mencoba mengembalikan keadaan, tapi kamu tak ingin kembali. Dia gagal dan memilih untuk menetap denganku dan melanjutkan persahabatan ini. Semuanya baik-baik saja, ya baik-baik saja.
Hingga hari itu tiba, aku kehilangan lagi sesosok sahabat. Bukan, bukan Dina. Tapi seorang sahabat seperkuliahan, tak ada sangkut pautnya dengan pertemanan diatas namun aku hanya ingin bilang aku kehilangan lagi. Kali ini karena rasa kecewaku terhadapnya.
Entah bagaimana, aku menjadi agak sedikit sensitif terhadap orang-orang yang tidak tahu diri. Dari awal kuliah kita berempat menjalin sebuah persahabatan, namun karena aku tidak percaya dengan persahabatan yang secepat itu, aku memutuskan menggap mereka bertiga rekan kuliah. Hingga dimana waktu yang sering kita lewati membuatku terbiasa akan hadirnya mereka bertiga, mereka adalah sahabatku. Ternyata semuanya tak seindah yang dikira, aku kecewa.
Salah satu sahabatku, sebut saja namanya Fatia. Dia membuat kami bertiga kecewa dengan sikapnya. Semua waktu yang dilewati membuatku merasa sia-sia berteman dengannya. Fatia, kamu licik. Kami selalu membantumu, kami selalu menemanimu, kami selalu mengajarimu, namun apa yang sudah kamu perbuat saat itu membuat aku kecewa.
Tidak, kami tidak harap akan balas budimu Fatia. Kami hanya ingin ketulusanmu dalam bersahabat. Namun apa yang kami dapat? Kekecewaan. Kamu berbuat seenaknya, kamu tidak tahu diri. Kami yang selalu mendukungmu, membantumu berproses, menelongmu tak adakah rasa tulus dihatimu? Kamu tak menganggap kami tak ada, kamu seolah-olah tak melihat kami, kamu lupakan segala pertolongan kami, kamu pergi dengan egomu, kamu menjauh seakan-akan kami berbuat jahat padamu, kamu membuat kami kecewa.
Terlepas dari kekecewaanku, aku pun bersedih. Kemana Fatia yang selalu baik hati terhadap orang? Kemana perginya? Jujur, aku sangat kecewa namun aku juga kehilanganmu. Tapi aku bisa apa? Kamu yang memilih pergi dan melupakan kami.
Komentar
Posting Komentar